Kamis, 02 Februari 2012

MEMPERPANJANG UMUR RANTAI CAMRAT JUPITER-Z

Awas ketika odometer mulai menginjak 60 ribu Km, rantai camrat mulai bikin ulah. Karena aus bagian pin bushingnya, kemudian menyebabkan tegangan camrat kendor. Saat berkendara jadi berisik, lantaran suara mesin tak bisa halus. Meskipun sudah dilengkapi dengan tensioner model automatis, tetap saja kemlitik.
Sebab, push rod tensioner sendiri memiliki limit batas tekanan ke karet tensioner untuk menstabilkan tegangan rantai camrat. Tapi sekarang entar dulu jangan keburu mengganti rantai camrat ? sebab Peno mekaniknya bengkel Seruling Motosport di kawasan Dukuh Kupang XX, Surabaya memiliki trik spesial buat pemilik Jupiter-Z. Lumayan, itung-itung untuk mengirit biaya maintenance.
Caranya mudah, pertama bongkar tensioner dari dudukannya. Kemudian ujung push rod tensioner tambahkan dengan mur baja (kunci 12) dan satukan dengan las listrik. “Cara ini dilakukan untuk memperpanjang tonjokan puh rod ke karet tensioner,” terang Peno.

Dan untuk karet tensionernya, ganti milik Crypton atau Vega lama yang masih 100 cc. Secara desain karet tensionernya sama, hanya saja di bagian tapak pijakan push rod lebih nonjol. Sehingga efektif menstabilkan tegangan rantai camrat, ketika ditekan push rod.

Untuk karet tensioner milik Crypton kode nya 4ST. “Cara ini sesuai dengan prakteknya, bisa memperpanjang umur camrat hingga 4 tahun lagi, ”yakin mekanik yang juga mahir mengorek motor road race ini.

PROBLEM & SOLUSI MEMASANG KOPLING MANUAL

Tak hanya di komunitas balap yang wajib memakai kopling manual. Tapi konsumen pengguna motor harian di segmen remaja juga, lebih demen memakai motor yang berkopling manual. Lantaran performa mesin saat berakselerasi lebih responsif.
Fenomena itu juga dampak ATPM yang meluncurkan motor bebek jantan dengan kopling manual macam Shogun 125 SP dan Yamaha MX 135 LC. Langkah praktis, bisa merombak calter orsi yang masih pakai sentrifugal menjadi manual di bengkel las diral.

Dalam keperluan memasang perangkat kopling, yang tersedia di bengkel variasi dan speed shop. Ongkos
pasang tanpa bahan cuman Rp. 80 ribu. Tapi, faktanya yang memilih cara ini banyak menemui kendala setelah pemakaian, seperti keluhan yang datang ke SMS otoklinik yang masuk ke redaksi ototrend. Apa saja problemnya ?.

PORI PADA HASIL PENGELASAN
Kadang hasil las diral masih menimbulkan pori-pori, itu efek umpan diral sekitar kurang panas. Sehingga diral tak bisa saling rapat menyambung. Saat mesin hidup dan terjadi tekanan dari dalam, oli mesin merembes keluar.
Solusinya, proses pengelasan mestinya dilakukan luar dalam. “Khusus nya bagian pinion pengungkit,” urai Samsul Akhmadi pebengkel bubut di Jl. Prapen Panjangjiwo 5, Surabaya.

OLI MESIN NAIK DARI TUAS KOLING
Bukan dari hasil las-lasan saja yang menyebabkan kebocoran oli mesin. Dari celah pinion pengungkit yang diputar lengan kopling, kadang menjadi pemicu keluarnya oli mesin, lantaran salah kontruksi.
Sebab, desain kalter kopling manual yang orsi, sil hanya dijadikan pelindung debu. Sedang oli mesin ditahan oleh bushing dudukan pinion pengungkit yang dirancang presisi.
Solusinya, saat membuat kopling manual, lengkapi dengan bushing pinion pengungkit yang presisi. Berikut dengan sil kedap penahan masuk nya air, debu dan kuat menahan tekanan oli mesin dari dalam.

SETING RUMAH PIN PENEKAN
Ini bagian paling vital. Misalkan rumah pin penekan tak center dengan bearing kopling house, saat tuas kopling dipencet kampas dan plat kopling tak mau bebas. Ini sama halnya dengan mempercepat umur pemakaian kampas kopling, sebab mudah terbakar.
Solusinya, saat memasang dan mengelas rumah pin penekan, pastikan rumah pin penekan menapak siku di dinding calter.

PENYEBAB & SOLUSI REM CAKRAM MENGUNCI

Memang tergolong suatu unit yang tidak terlalu butuh perawatan ekstra, piranti rem cakram ternyata bisa menimbulkan bahaya (gbr.1). Salah satunya adalah terjadinya rem ngunci atau dalam bahasa tekniknya akrab disebut dengan locking brake. Hal ini terjadi ketika kaliper cakram mencengkeram erat piringan cakram yang terjadi saat setelah proses pengereman atau bahkan tanpa diawali proses pengereman sekalipun. Nah, apa saja sih yang sering menjadi penyebabnya? Nih dia sedikit penjabarannya.
CAKRAM LAMA NGANGGUR
Ketika motor diisirahatkan dalam jangka waktu cukup lama, tentunya unit rem cakram juga tidak beroperasi. Baik piston dalam pompa master maupun piston dalam kaliper tidak bekerja melakkan daya dorong. Didukung lingkungan yang cukup lembab, bisa jadi akan timbul korosi sehingga ketika digunakan kembali, salah satu atau kedua unit terpenting dalam system rem cakramnya akan macet akibat gangguan kotoran korosi. Jadi alangkah lebih bijaksana jika sebelum dioperasikan kembali, lakukan pengecekan dan bila perlu pembongkaran master dan kaliper cakram.

PIRINGAN CAKRAM OLENG
Efek oleng bisa diartikan sebagai kondisi permukaan piringan cakram yang sudah tidak rata. Ketidak-rataannya ini bisa menyebabkan rem mengunci. Pemicunya adalah temperatur kaliper cakram yang perlahan naik akibat rambatan panas dari gesekan terus menerus dari salah satu bidang piringan terhadap kampas rem kaliper (gbr.2). Jika sampai over heat, dimana suhu piston maupun rumah piston kaliper naik, tentunya akan terjadi efek memuai/mengembang dari keduanya. Pemuaian ini mengakibatkan kemacetan piston yang terhimpit rumah piston kaliper. Secara langsung, cakram akan mengunci.

PISTON KALIPER KOTOR/BERKARAT
Piston kaliper cakram memiliki peran utama sebagai penekan kampas rem yang akan mencengkeram piringan cakram. Proses penekanannya memanfaatkan bantuan penekanan fluida/hidrolik. Gerak balik piston terjadi karena tekanan fluida/hidrolik dihilangkan. Jika dinding piston dikotori kerak dan bahkan sampai berkarat, nggak menutup kemungkinan piston akan macet/tidak balik dan terjadilah rem mengunci (gbr.3).

AS SLIDING KOTOR
Kaliper cakram type sliding akan bekerja searah dengan piringan cakram. Piston pada satu sisi kaliper mendorong kampas rem sisi dalam sehingga menyentuh permukaan piringan cakram, lalu mendorong bodi kaliper dengan kampas rem sisi luar sehingga tekanan terjadi penekanan pada kedua sisi piringan cakram. Gerakan sliding ini dimediai oleh dua buah as sebagai poros (gbr.4). Jika terlalu lama tidak dibersihkan, akan timbul timbunan kotoran atau bahkan korosi yang dengan mudah mengakibatkan gagalnya gerakan sliding sehingga nge-lock.